
Displaced Rohingya in Rakhine State. PHOTO: Evangelos Petratos/EU Humanitarian Aid and Civil Protection/Flickr
Seminggu belakangan ini, Myanmar didera kekerasan komunal. Kali ini di jantung negeri dimana peristiwa terburuk terjadi di kota Meiktila yang terletak antara Mandalay dan ibukota Naypitaw. Awalnya sebuah perkelahian di toko emas, pertikaian ini kemudian meluas menjadi bentrok antara komunitas Budha dengan Muslim. Korbannya tak main-main. Menurut versi pemerintah, hampir 50 orang tewas dan tak kurang dari 10,000 terpaksa mengungsi. Sementara itu, perkiraan sumber lain menyebut bahwa korban melebihi estimasi pemerintah.
Seperti bentrokan sebelumnya, komunitas Muslim menderita paling banyak. Lebih dari tiga-perempat pengungsi beragama Islam. Sebagian rumah mereka hancur lebur dan sejumlah masjid serta madrasah hangus dibakar. Walau keadaan darurat telah berlaku dan keberadaan pasukan keamanan telah menenangkan suasana, para pengungsi mungkin butuh berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan untuk dapat membangun rumah dan kehidupan mereka kembali. Mereka yang sudah kehilangan segalanya ini kini ada dalam ketakutan akan serangan berikutnya sehingga tidak dapat dipastikan kapan mereka mampu atau mau kembali ke kampungnya.







